10 Juli 2009
27 Januari 2009
JAMKESMAS DAH ADA NIH
PALEMBANG, SELASA - Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengatakan, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) patut menjadi contoh bagi daerah lain karena yang pertama meluncurkan dan menerapkan jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) daerah sehingga membantu pemerintah pusat meningkatkan pelayanan kesehatan gratis kepada rakyat.
"Program ini bisa dicontoh oleh pemerintah daerah (pemda) lainnya di Indonesia karena mampu menerapkan pengobatan gratis yang sinkron dengan program pemerintah pusat," katanya saat peluncuran program Jaminan Sosial Kesehatan (Jamsoskes) Sumsel Semesta, di Palembang, Selasa.
Menurut dia, sampai kini tercatat sebanyak 16,4 juta jiwa rakyat Indonesia yang ter-"cover" dalam jamkesmas, dan 2,7 juta jiwa di antaranya berada di Sumsel.
Namun dengan diberlakukannya jamkesmas daerah, pemerintah pusat tidak perlu menambah kepesertaan jamkesmas di wilayah ini.
Ia mengatakan, program jamkesmas daerah ini harus berjalan secara efektif, transparan dan akuntabel, sehingga program tersebut dapat berjalan baik sesuai dengan target memberikan pelayanan berobat gratis kepada.
Selain itu, kata menteri, pemerintah setempat juga diminta lebih aktif menggalang dana untuk membiaya program tersebut karena akan menyedot biaya yang tidak sedikit.
Penggalangan dana juga untuk mengantisipasi program tersebut agar berjalan sesuai target sehingga tidak tumpang tindih dengan program lain, sedangkan semua rakyat yang memerlukan pengobatan gratis dapat dilayani.
Menkes menambahkan, pemda kabupaten/kota di daerah ini juga diminta untuk mendukung program tersebut sepenuhnya sehingga semua masyarakat bisa menikmati jamkesmas daerah.
"Apalagi memberikan pelayanan pengobatan kepada masyarakat merupakan kewajiban pemerintah," tambahnya.
Menkes pada kesempatan itu menyempatkan diri meninjau 12 tenda pengobatan gratis di pelataran parkir bawah jembatan Ampera yang dilanjutkan dengan meninjau puskesmas terapung di sungai Musi.
Ribuan warga Palembang dan sekitarnya tumpah ruah di bawah jembatan kebanggaan "wong Plembang" itu sambil menyaksikan peluncuran berobat gratis.
Warga juga langsung menikmati layanan pengobatan gratis di tenda-tenda yang disediakan penitia.
ABD
THE WAY, TRUTH AND LIFE

26 Januari 2009
TIPS MENGHINDARI SELINGKUH
KETIDAKSETIAAN tidak akan terjadi begitu saja. Namun, ketidaksetiaan dapat dicegah dengan pikiran dan tindakan yang sehat dan selalu positif. Nah, untuk memulainya, miliki tujuh poin spesifik berikut yang dapat membantu para pasangan yang menikah untuk selalu menghargai kesatuan mereka berdua agar tetap saling setia satu sama lain hingga akhir hayatnya.
1.Pelihara rumah tangga Anda berdua! Jangan sesekali memberi peluang pada orang lain yang bisa mengancam jiwa perkawinan Anda.
2.Mengenali tempat kerja dapat merupakan daerah yang berbahaya. Maka, hindarilah untuk selalu melewatkan makan siang atau sekadar‘ngopi' hanya berduaan dengan seorang pria yang sama. Jika Anda harus melakukan perjalanan bisnis dengan rekan sekerja lawan jenis, selalulah melakukan pertemuan di tempat umum, dan bukan di kamar Anda atau di kamarnya.
3.Hindari kedekatan emosional dengan seseorang, selain pasangan tetap Anda. Lawan dengan kuat keinginan untuk membantu teman lawan jenis yang kerap 'curhat' mengenai kehidupan pribadinya kepada Anda.
4.Lindungi kehidupan perkawinan dengan selalu membahas masalah hubungan Anda bersama pasangan. Jika memang perlu untuk berbicara dengan seseorang selain pasangan mengenai perkawinan Anda, pastikan orang itu merupakan teman dekat Anda berdua atau kerabat dekat, atau keluarga.
5.Hindari ‘cinta lama bersemi kembali'! Jika mantan pacar akan datang di acara reuni angkatan, ajaklah pasangan untuk ikut menghadiri. Jika Anda menghargai kehidupan perkawinan Anda, pikirkan dua kali untuk makan siang atau malam bersama mantan pacar.
6.Jangan melewati batas. Jika chatting dengan teman-teman di internet, bersikaplah terbuka kepada pasangan. Perlihatkan kepadanya dengan siapa saja Anda chatting. Undanglah pasangan untuk bergabung agar teman-teman chatting tahu, Anda sudah ada yang punya dan mereka tidak salah tangkap terhadap sikap ramah dan akrab Anda. Dan ingat, jangan sampai bertukar fantasi seksual di dunia maya!
7.Pastikan jaringan sosial Anda selalu mendukung kehidupan perkawinan Anda berdua. Kelilingilah selalu diri Anda dengan teman-teman yang memiliki kehidupan perkawinan yang bahagia, termasuk mereka yang tidak suka menebar pesona di mana-mana.
Aline
Beri Perhatian Terhadap Hewan Langka
BANDA ACEH, SABTU - Pakar konservasi hutan dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Prof Dr Ir Yuswar Yunus MP mengingatkan aparat lembaga terkait di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) agar tidak arogan dalam menangani hewan langka.
"Sikap arogan yang sering dipertontonkan sebagian oknum dalam penanganan satwa liar yang dilindungi itu dapat merusak citra daerah, sehingga ke depan dalam setiap kebijakan yang dilakukan harus ada koordinasi agar tidak ada yang merasa dirugikan," ungkap Prof Yuswar di Banda Aceh, Sabtu (17/1).
Pernyataan itu disampaikan menanggapi adanya sebagian oknum yang bertindak sendiri dalam menangani hewan langka beberapa waktu lalu, sehingga menimbulkan reaksi keras dari pengamat dan pecinta lingkungan di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.
Yuswar yang juga Direktur Program Yayasan Leuser Internasional (YLI) itu menyebut contoh kebijakan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NAD yang membawa keluar atau pindah lima harimau Aceh untuk dilepas di hutan Lampung sebagai bukti arogansi mereka.
Pelepasan harimau asal Aceh yang pernah konflik dengan manusia ke Lampung dapat memunculkan beragam pendapat, terutama terkait dengan kondisi habitat hewan langka tersebut yang seolah-olah di hutan daerah ini keselamatan satwa itu semakin terancam.
"Yang perlu diketahui, hutan Leuser yang luasnya 2,6 juta hektare masih cukup baik untuk habitat satwa liar yang dilindungi, baik harimau maupun gajah," katanya.
Hutan Leuser masih cukup baik, dan hingga saat ini masih merupakan dunianya hewan-hewan langka yang fenomenal sebagai hutan primer alami, karena mendapat dukungan peratawan dari Uni Eropa lewat Bank Dunia melalui Proyek Lingkungan dan Hutan Aceh (Aceh Forest Emviromment Project) yang ditangani Leuser International Fundation (LIF).
Sedangkan hutan Ulu Masen (bahagian dari areal Taman Nasional Gunung Leuser-TNGL) yang luasnya 743.000 hektare juga berada di Aceh, ditangani Yayasan Flora Fauna International (FFI) dengan sumber dana yang sama di bawah pimpinan seorang warga Belanda.
"LIF dan FFI tidak hanya merawat hutan yang menjadi paru-paru dunia, tetapi juga membantu untuk melindungi hewan-hewan langka, seperti harimau Sumatera, badak Sumatera, Orangutan, Beruang, Gajah, Rusa dan buaya," katanya.
Bukan itu saja, LIF dan FFI juga ikut membantu memberi makan harimau yang ditangkap pawang uteun (hutan) dan masyarakat serta anggota LIF bersama LSM "Rimueng Lamkalot" di Kabupaten Aceh Selatan turut memfasilitasi menangkap harimau-harimau yang konflik dengan manusia.
Sebagai contoh disebutkan bantuan itu diberikan dalam wujud penyediaan perangkap atau biaya yang dibutuhkan untuk penangkapan, serta membantu biaya pengobatan bagi mereka yang terkena musibah.
AC
PAHLAWAN LINGKUNGAN
OLEH ANDREAS MARYOTO
Memasuki usia 66 tahun tak menghalanginya untuk berjalan di goa yang gelap dan terjal. Ia tetap bersemangat mengantar tamu untuk melihat kawasan hutan hasil rehabilitasi lahan tandus dan gersang Sikopi Kopi di Kecamatan Aek Kanopan, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara.
Sejak 1994 saya mengelola lahan ini. Semula lahan ini tandus karena warga menebangi pohon lalu membakarnya menjadi lahan pertanian. Setelah itu, mereka meninggalkan lahan ini,” kata Pastor Simon Sinaga OFM Cap tentang awal mula kondisi kawasan Sikopi Kopi.
Hutan ini sebenarnya biasa saja. Dilihat luasnya, Sikopi Kopi hanya 40 hektar. Hutan ini tergolong kecil dibandingkan dengan luas kebun sawit di Sumut yang hampir mencapai 1 juta hektar.
Akan tetapi, keberadaan hutan di tengah kepungan perkebunan sawit di Sumut bisa menjadi simbol. Simbol perlawanan terhadap perluasan perkebunan sawit yang tak terkendali, kebablasan. Sikopi Kopi secara pasif menahan ”agresi” perkebunan kelapa sawit.
Riwayat Sikopi Kopi bermula saat ordo OFM Cap, salah satu tarekat rohaniwan Katolik, membeli lahan itu. Sinaga lalu menanami kawasan itu dengan berbagai jenis pohon meski ia tak punya pengetahuan layaknya ahli konservasi lingkungan untuk menghijaukan kawasan. Bermodal tekun dan cinta pada lingkungan, setiap kali dia menanam berbagai bibit tanaman di lahan yang kritis.
Setelah 14 tahun, kawasan itu kembali hijau dengan pohon-pohon besar di lereng Sikopi Kopi. Berbagai jenis hewan, seperti kera dan ular, berumah di hutan itu. Semak tumbuh liar, tanaman seperti rotan pun tumbuh leluasa.
Bekas jalan masuk ke hutan ini mulai tertutup tanaman liar. Di dalam hutan terdapat goa yang menjadi habitat kelelawar dan ular. Kehadiran berbagai jenis satwa dan tanaman itu menjadi ciri membaiknya lingkungan.
Pemandangan ini kontras dengan kawasan sekitar yang dipenuhi tanaman kelapa sawit. Pilihan Sinaga memang tak berdampak langsung atau mengurangi perluasan kebun sawit. Ia hanya ingin mengingatkan, hutan harus dijaga dan tak bisa semena-mena diubah semuanya menjadi kebun sawit sebab hutan punya fungsi lain untuk menunjang kehidupan.
"Tak semua orang mau melihat masa depan. Orang suka berpikir instan, ingin mendapat uang dengan cara apa pun, termasuk menebangi hutan untuk kebun sawit. Hutan itu punya banyak fungsi bagi kelestarian makhluk hidup," kata Sinaga.
Merisaukan
Ketika mulai berkarya sebagai pastor paroki di Aek Kanopan tahun 1986, ia sudah berurusan dengan persoalan lingkungan yang merisaukan. Banyak orang meracuni ikan di kanal-kanal pembuangan air di sekitar perkebunan sawit. Itu tentulah merusak lingkungan meski pelakunya sebagian justru aparat negara.
"Saya pelajari undang-undang, jadi saya tahu mereka melanggar hukum. Saya sempat memotret aparat yang meracuni ikan. Dari gambar itu saya laporkan mereka kepada penegak hukum," cerita Sinaga tentang kasus yang kemudian dibawa ke pengadilan.
Ia ingin kasus ini dituntaskan. Namun, melihat itikad baik dari mereka yang semula bertindak tak benar itu, Sinaga mau berdamai dengan syarat para tersangka mau memelopori penebaran kembali ikan di kanal-kanal tersebut. Ini sebagai bukti mereka tak akan merusak lingkungan.
Tak cukup dengan itu, sebagai ”hukuman sosial”, saat mereka menebarkan benih-benih ikan ke kanal-kanal di Aek Kanopan pun disaksikan langsung oleh penduduk setempat.
"Orang meracun ikan itu hanya demi makan sekitar dua hari saja. Mereka cuma merasa puas bisa mendapat ikan dalam jumlah banyak. Namun, mereka tak menyadari, setelah semua itu habis, akan terjadi kelaparan," kata Sinaga. Peristiwa ini membuat cintanya terhadap lingkungan makin membesar.
Tanaman kemenyan
Setelah merawat Sikopi Kopi, belakangan ini Sinaga berupaya menjaga kepunahan tanaman kemenyan di Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Dia melihat penebangan hutan yang terus-menerus di kawasan ini akan mengurangi lahan kemenyan.
Padahal, jenis tanaman itu masih sulit dibiakkan dan belum ditemukan cara budidayanya. Kemenyan tumbuh dan berkembang secara alami. Bila tanaman kemenyan punah, Indonesia akan kehilangan salah satu kekayaan hayatinya.
Kemenyan adalah salah satu tanaman yang hanya tumbuh di wilayah barat kawasan Sumut. Penebangan hutan yang terjadi di daerah itu sungguh berpotensi mengurangi populasi pohon kemenyan.
"Ancaman terhadap tanaman kemenyan sangat nyata. Hutan itu terus dibabat," kata Sinaga mengisahkan perilaku perusahaan yang tidak memahami pentingnya keberadaan jenis tumbuhan tersebut. Ia punya alasan kuat untuk mempertahankan kemenyan.
Sinaga lalu bercerita, riwayat bangsa ini terkait dengan berbagai jenis tanaman di berbagai tempat di Nusantara, salah satunya kemenyan. Pelabuhan Barus, pelabuhan tua di pantai barat Sumut, pun sejak zaman dahulu telah menjadi tempat pengiriman kemenyan hingga ke berbagai kota di Timur Tengah dan Eropa.
"Tanaman kemenyan harus kita selamatkan karena bisa punah bila dibiarkan saja (dibabat)," kata Sinaga.
Ia kembali mengkritik penebangan hutan yang terus terjadi, ”sekadar” demi kepentingan ekonomi sesaat hingga merusak tanaman kemenyan.
Perusak lingkungan
Sinaga terus bergelut dengan pemikiran tentang masalah itu. Ia pun mencoba ”memahami” pemikiran para perusak lingkungan.
Ia heran dengan sikap sejumlah pengusaha yang terus merusak hutan. Sebab, mereka relatif berpendidikan dan tahu bila perusakan itu dilanjutkan, bencana hanya tinggal menunggu waktu.
"Ternyata lebih mudah mengelola tanaman dibandingkan dengan mengelola manusia," kata Sinaga menyinggung perilaku para perusak hutan.
Di sisi lain dia menyadari, persoalan ekonomi warga di sekitar hutan yang lemah membuat mereka mudah diajak untuk merambah hutan. Tawaran uang dari pengusaha telah menyeret sebagian warga, juga sebagian pemuka masyarakat, dengan mudahnya ikut merusak hutan.
"Mempertahankan tanaman kemenyan juga merupakan pilihan yang sulit. Sebab, komoditas ini memang masih dihargai rendah," katanya.
Meskipun begitu, Sinaga tetap memilih berjuang mempertahankan lingkungan agar tetap lestari. Dia memilih tak melawan dengan cara frontal atau menggunakan cara agitatif.
Dengan simbol, Sinaga ingin memperlihatkan adanya kesalahan dalam pengelolaan lingkungan. Sekecil apa pun simbol itu, ia berusaha menghadirkannya, termasuk dengan memakai tas berbahan daur ulang.
Biodata
Nama: Simon Sinaga OFM Cap
Lahir: Palipi, Samosir, Sumatera Utara, 7 Agustus 1943
Pendidikan:
- SR Katolik, Palipi, tamat 1958
- SMP Seminari Menengah Pematang Siantar, 1961
- SMA Seminari Menengah Pematang Siantar, 1965
- Studi Filsafat Seminar Tinggi Kapusin Parapat, 1970
- Studi Teologi Seminari Tinggi Kapusin Pematang Siantar, 1973
- Ditahbiskan menjadi imam, 5 Januari 1974
Pekerjaan:
- Guru Seminari Menengah Pematang Siantar, 1974-1977
- Pastor sejak 1977-kini
Sumber : Kompas Cetak
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Laporan Wartawan Kompas Suhartono
PADANG, SABTU — Meskipun target pertumbuhan ekonomi dikoreksi dari 6 persen menjadi 5 persen akibat dampak krisis keuangan global, Wapres Jusuf Kalla tetap bangga. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tercatat yang terbaik di antara negara-negara ASEAN bahkan Asia. Sebut saja, seperti Thailand, Filipina, bahkan Pakistan dan India. Hal itu disampaikan Wapres Jusuf Kalla saat orasi ilmiah di hadapan civitas akademika Universitas Bung Hatta, di Padang, Sumbar, Sabtu (24/1) pagi.
"Sekiranya tidak ada krisis global, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencatat 7 persen bahkan lebih atau 7,5 persen. Namun, karena krisis tersebut, kita mengoreksinya menjadi 5 persen. Meskipun begitu, angka itu masih yang terbaik di antara negara-negara ASEAN dan Asia," tandas Wapres.
Menurut Wapres, pertumbuhan ekonomi Thailand jauh merosot karena bukan hanya persoalan politik, saling mengkudeta para penguasanya, tetapi juga persoalan ekonomi. "Demikian juga Filipina, bahkan India dan Pakistan, apalagi pertumbuhan di Burma yang lebih merosot lagi," kata Kalla memberi contoh.
Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik, lanjut Wapres, banyak orang Indonesia yang justru pesimis bahkan khawatir dengan dampak krisis tersebut. "Jadi justru bangsa kita sendiri yang menganggap krisis itu benar-benar terjadi di Indonesia. Padahal orang lain justru menganggap kita lebih baik. Misalnya, saya ditanya wartawan asing mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak jauh merosot dibanding negara ASEAN lainnya," katanya.
Wapres mengatakan, krisis keuangan yang berdampak itu justru sebenarnya menimpa Amerika Serikat sendiri dan sejumlah negara yang menjadi pengekspor ke Amerika. "Misalnya China, ekspor mereka sangat besar ke Amerika. Saat kebutuhan masyarakat Amerika menurun, ekspor mereka (China) akhirnya ikut terpukul. Akan tetapi, dibanding Indonesia, ekspor kita tidak menurun karena komoditas yang kita ekspor adalah bahan pokok. Jadi, kalau orang Amerika mengurangi konsumsi membeli mobil dan barang sekunder lainnya, mereka tidak mengurangi minum kopi, makan cokelat, dan menggunakan minyak goreng yang kita ekspor," paparnya.
Lebih lauh, Wapres Kalla menjelaskan, sekalipun pasar modal Indonesia ikut terimbas, tetapi yang main saham di Indonesia kurang dari 1 persen sehingga dampaknya tidak terlalu besar. Sebaliknya, yang terjadi di Singapura justru berbeda. "Masyarakatnya bermain saham hampir 60 persen sehingga Singapura termasuk yang ikut terpukul, sedangkan kita tidak," ujarnya.
Diakui Wapres Kalla, memang ada bank yang ambruk, "Tapi ambruknya itu dirampok sendiri oleh pemiliknya. Karena itu, saya tidak setuju adanya jaminan kredit bagi bank atau blanket guarantee. Resep bagi bank yang dirampok pemiliknya bukan blanket guarantee, tapi jaminan selimut di dalam rumah tahanan," katanya.
HAR
