Cukup Besarkah Kapasitas Diri Anda?
Hore,Hari Baru!Teman-teman.Kita sudah sering mendengar keluhan bahwa semakin hari pekerjaan kita menjadi semakin banyak saja. Padahal, pilihan hidup kita untuk menjadi pekerja mestinya diikuti oleh kesadaran bahwa tidak ada satupun perusahaan dimuka bumi ini yang mencanangkan pertumbuhan negatif dari setiap portofolionya. Dan itu selalu berarti tantangan tahun ini lebih besar dari tahun sebelumnya. Selain itu, kita sendiripun selalu menuntut lebih banyak kepada perusahaan. Buktinya, setiap tahun kita menghendaki kenaikan gaji. Jadi, wajar jika kita melakukan lebih banyak pekerjaan untuk perusahaan, dan perusahaan memberi kita lebih banyak kesejahteraan. Tetapi, apakah kita memiliki kapasitas yang cukup besar untuk menyesuaikan diri dengan bertambahnya tuntutan perusahaan? Anda tentu mengenal karet gelang. Kalau kita membeli nasi bungkus, biasanya bungkusan itu diikat oleh karet gelang. Dijaman saya masih kecil dulu; karet gelang bukan sekedar alat untuk mengikat sesuatu, melainkan alat permainan yang mengesankan. Karet gelang bisa digunakan untuk permainan apa saja. Mulai dari lompat tali, gitar-gitaran, pistol-pistolan, ketapel, dan adu tiup serta permainan lain yang jenisnya begitu banyak. Saya tidak menemukan bahan lain yang bisa digunakan untuk beragam permainan seperti karet gelang.Namun, dari sekian banyak kegunaan karet gelang, ada satu karakter menarik yang dimilikinya. Yaitu; kemampuannya untuk memanjang mengikuti tarikan atau regangan. Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa karet gelang itu menyimpan sebuah pelajaran penting bagi kita. Yaitu, tentang kapasitas diri kita. Perhatikanlah, sebuah karet gelang terlihat begitu gemulai. Namun, dibalik kegemulaiannya itu dia menyembunyikan kapasitas diri yang sangat hebat. Ketika karet gelang dihadapkan kepada benda yang jauh lebih besar dari lingkarannya, maka dia mengerahkan 'potensi simpanannya' untuk mengimbangi besarnya tuntutan itu. Dengan begitu, dia selalu bisa menyesuaikan diri terhadap ukuran benda yang harus diikatnya. Dia bisa beradaptasi terhadap regangan yang diterimanya. Dengan kata lain, sebuah karet gelang mempunyai kapasitas diri yang lebih besar dari sekedar keadaan yang terlihat dari luar.Didalam pekerjaan kita pun demikian. Orang-orang yang memiliki kapasitas diri yang besar selalu mampu untuk menerima tantangan yang lebih besar. Ajaibnya, semakin besar tantang yang diterimanya; semakin besar juga kapasitas dirinya. Sehingga semakin hari, orang ini menjadi semakin hebat saja. Dan, karena dia menjadi semakin hebat; maka perusahaan memberi dia semakin banyak. Maka terjadilah keadaan yang saya sebut sebagai 'satisfaction circle'. Tantangan yang besar menjadikan kapasitas diri semakin besar. Kapasitas diri yang besar menghasilkan kinerja yang tinggi. Kinerja yang tinggi mendorong kompensasi dan imbalan yang tinggi. Imbalan yang tinggi melahirkan semangat kerja yang tinggi. Semangat kerja yang tinggi mendorong orang untuk terus meningkatkan diri. Meningkatkan diri memperbesar kapasitas diri. Begitu seterusnya, sehingga timbulah kepuasan disisi karyawan dan perusahaan.Sedangkan orang-orang yang memiliki kapasitas diri yang kecil; tidak akan mampu untuk mengakomodasi tuntutan perusahaan yang semakin hari semakin meningkat. Dengan demikian, orang ini dengan cepat akan sampai kepada keadaan yang biasa kita sebut sebagai 'mentok'. Para praktisi pengembangan sumberdaya manusia percaya bahwa orang-orang yang 'sudah mentok' tidak bisa dikembangkan lagi. Sehingga, bagi mereka hanya ada 2 alternatif; yaitu, dipertahankan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rutin. Atau, segera dirumahkan karena tidak dapat mengikuti perkembangan perusahaan.Oleh karena itu, kita tidak memiliki pilihan lain selain memastikan bahwa kapasitas diri kita cukup besar untuk mengakomodasi tuntutan perusahaan. Untuk itu, ada beberapa langkah penting yang perlu kita lakukan.Pertama, memahami bahwa pengembangan diri adalah tanggungjawab pribadi. Kitalah yang harus mendorong proses pengembangan diri itu. Bukan menunggu orang lain atau perusahaan yang melakukannya untuk kita. Mengapa? Karena orang lain belum tentu mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengembangkan diri kita. Dan perusahaan memiliki banyak keterbatasan untuk menginvestasikan dana bagi perkembangan semua karyawannya.Kedua, menantang diri sendiri. Banyak orang yang senang jika diberi pekerjaan yang gampang. Padahal itu berbahaya. Sebab, bukannya bertambah kapasitas diri mereka; melainkan semakin berkurang. Sebaliknya, kita mesti memastikan bahwa diri kita selalu dikondisikan menangani pekerjaan-pekerjaan sulit. Agar semakin hari keterampilan kita semakin meningkat. Dan kualitas diri kita semakin tinggi. Sehingga, kapasitas diri kita semakin besar dari hari ke hari.Ketiga, lakukan semuanya itu secara konsisten. Kita tidak bisa berhenti untuk berkembang. Sebab, berhenti adalah awal dari sebuah kemunduran. Mobil yang terus maju tanpa henti tidak akan bisa mundur. Sebab, sebelum mundur dia harus terlebih dahulu berhenti. Begitu juga dengan kita. Jika kita bisa memastikan untuk terus bertumbuh tanpa henti, maka kita akan terhindar dari kemunduran. Dengan begitu, kita akan selalu mampu untuk meningkatkan kapasitas diri kita. Dan, seperti karet gelang; kita jadi mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perusahaan. Sehingga, para pemimpin diperusahaan menyimpulkan bahwa kita adalah orang-orang yang bisa diandalkan. Dan layak mendapatkan kesempatan.
Hore,Hari Baru!
23 Januari 2009
14 Januari 2009
Greetings
dear Musliadi,
Have a good blogger of mine today so you can fill out my blogger as you want it.
good to see you.....
Have a good blogger of mine today so you can fill out my blogger as you want it.
good to see you.....
13 Januari 2009
Resiko Ekonomi-Politik 2009
Risiko Ekonomi-Politik 2009
Senin, 12 Januari 2009 | 00:39 WIB
Yang diharapkan orang kecil dan orang biasa adalah bisa tidur nyenyak dan makan kenyang, kata seorang kerabat di kampung kepada saya beberapa pekan lalu।
Ini tentu bukan hendak menyederhanakan persoalan atau terlampau terpaku pada teori hierarki kebutuhan yang disampaikan Maslow. Namun, kutipan itu mampu menjadi panduan menyusun prioritas kebijakan, terutama terkait kelompok yang kerap diabaikan, yaitu kaum miskin dan kelompok marjinal lain.
Tahun 2009 boleh jadi lebih baik, atau tak lebih buruk, dibandingkan 2008. Namun, tahun 2009 adalah tahun penuh risiko ekonomi-politik dan kaum miskin—dengan ragam karakteristiknya— ada pada posisi rentan. Definisi kaum miskin dalam konteks ini lebih tepat menggunakan kriteria Bank Dunia, berpenghasilan di bawah 2 dollar AS per kapita per hari, dan kini jumlahnya sekitar 100 juta orang. Definisi ini lebih mampu menangkap ”kerentanan” dibandingkan garis kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS), di mana kaum miskin berjumlah 35 juta-39 juta.
Risiko ekonomi
Secara umum, kecenderungan ekonomi dunia yang serba tak pasti dalam jangka panjang (National Intellegence Council, 2008) membuat kaum miskin betul-betul terekspos terhadap risiko ekonomi. Harga bahan bakar minyak (BBM), misalnya, sempat mencapai kisaran 140 dollar AS dan kini di kisaran 40 dollar AS. Dengan subsidi BBM lebih dari Rp 126 triliun atau sedikitnya 12 persen APBN 2008, kaum miskin masih menanggung kenaikan harga BBM—dan turunan inflasi—yang menjatuhkan daya beli.
Harga dan ketersediaan pangan juga kian ditentukan pasar internasional, membuat besarnya risiko kaum miskin, baik sebagai petani kecil maupun konsumen. Risiko terbesar disebabkan fluktuasi kebutuhan industri makanan dan persaingan dengan kebutuhan bahan bakar nabati (BBN). Secara tak langsung, produksi BBN juga menimbulkan persaingan lahan dengan produksi pangan (Cotula, Dyer, dan Vermeulen, 2008).
Pada tahun 2009, risiko ekonomi secara spesifik berupa dampak krisis global yang diikuti resesi beberapa negara maju. Ini berarti, permintaan dan harga di berbagai industri bakal menurun, beberapa menghantam jutaan kaum miskin. Pertama, buruh industri manufaktur berbasis ekspor. Kedua, buruh industri pertambangan. Ketiga, petani kecil produsen komoditas ekspor seperti kelapa sawit dan karet. Keempat, imbas tiga hal itu, rontoknya sektor informal dan usaha mikro, kecil, dan menengah akibat jatuhnya daya beli kaum miskin sebagai konsumen utama.
Daya respons kaum miskin terhadap risiko akibat shocks itu praktis amat lemah. Itu sebabnya, asumsi neoliberal bahwa setiap shocks akan bisa diatasi ”penyesuaian” dan ”pergeseran” berdasarkan pilihan rasional sering tak cocok guna menjelaskan penghidupan kaum miskin karena beberapa faktor.
Pertama, kepemilikan aset, modal, dan tabungan kaum miskin amat rendah. Petani di negara berkembang, misalnya, kebanyakan memiliki lahan sempit (World Development Report, 2008). Kedua, rendahnya pendidikan yang berdampak rendahnya kemampuan menyerap informasi dan merespons risiko ekonomi. Ketiga, bertemunya dua hal itu, melemahnya modal sosial, dan belum matangnya kelembagaan formal dalam menghadapi kemiskinan di tengah krisis ekonomi.
Penurunan harga—setidaknya inflasi yang lebih rendah—banyak disebut akan ”menguntungkan” kaum miskin pada tahun 2009. Hal ini dimulai dengan dua kali penurunan harga BBM pada akhir 2008.
Namun, kaum miskin kadang harus membayar harga lebih tinggi dibandingkan kelompok nonmiskin yang disebut ”biaya kemiskinan” (Prahalad, 2008). Ini, misalnya, terjadi dalam akses air bersih. Dalam soal BBM, penurunan harga langsung dinikmati pemilik kendaraan pribadi. Sejauh ini, transmisi kepada penurunan ongkos angkut dan transportasi serta harga bahan pokok belum tampak.
Risiko politik
Risiko politik 2009 ditimbulkan pemilihan umum (pemilu). Risiko ini membuat respons terhadap krisis ekonomi jauh dari optimal. Pertama, pemerintah sulit membuat kebijakan yang relatif fundamental dan sinergi kebijakan dengan pemerintah provinsi/kabupaten/ kota, terutama jika berbeda kepentingan politik. Kedua, pelaku usaha bersikap wait and see untuk memperoleh kepastian mengenai keberlanjutan kebijakan, terutama peraturan yang lebih rendah dari undang-undang (UU).
Namun, pemilu juga membuat pengambil kebijakan lebih peka mengatasi dampak jangka pendek krisis ekonomi—terutama melalui subsidi langsung dan proyek infrastruktur— karena kuatnya tekanan pemilih maupun kompetitor politik. Di sini pemilih akan menunjukkan rasionalitasnya dalam pilihan politik, seperti temuan hasil analisis terakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2009).
Para pemangku kepentingan setidaknya harus menempuh langkah berikut. Pertama, memastikan kebijakan jangka pendek pada tahun 2009 berjalan optimal. Untuk itu, kebijakan dan menteri yang melaksanakan harus ”menjaga jarak” dengan dinamika politik.
Kedua, untuk jangka menengah dan panjang, Pemilu 2009 harus dijadikan wahana untuk perbaikan kebijakan. Mengingat masih lemahnya pengorganisasian kaum miskin, dukungan dari cendekiawan, aktivis, kampus, dan organisasi masyarakat sipil merupakan hal wajib, baik untuk advokasi, penyediaan informasi yang sederhana, maupun membangun sistem yang memberi insentif bagi pengambil kebijakan untuk prokaum miskin. [Tata Mustasya Analis Ekonomi-Politik dan Kebijakan Publik].
------
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat!
Best Regards,
BinsarSilalahi
Senin, 12 Januari 2009 | 00:39 WIB
Yang diharapkan orang kecil dan orang biasa adalah bisa tidur nyenyak dan makan kenyang, kata seorang kerabat di kampung kepada saya beberapa pekan lalu।
Ini tentu bukan hendak menyederhanakan persoalan atau terlampau terpaku pada teori hierarki kebutuhan yang disampaikan Maslow. Namun, kutipan itu mampu menjadi panduan menyusun prioritas kebijakan, terutama terkait kelompok yang kerap diabaikan, yaitu kaum miskin dan kelompok marjinal lain.
Tahun 2009 boleh jadi lebih baik, atau tak lebih buruk, dibandingkan 2008. Namun, tahun 2009 adalah tahun penuh risiko ekonomi-politik dan kaum miskin—dengan ragam karakteristiknya— ada pada posisi rentan. Definisi kaum miskin dalam konteks ini lebih tepat menggunakan kriteria Bank Dunia, berpenghasilan di bawah 2 dollar AS per kapita per hari, dan kini jumlahnya sekitar 100 juta orang. Definisi ini lebih mampu menangkap ”kerentanan” dibandingkan garis kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS), di mana kaum miskin berjumlah 35 juta-39 juta.
Risiko ekonomi
Secara umum, kecenderungan ekonomi dunia yang serba tak pasti dalam jangka panjang (National Intellegence Council, 2008) membuat kaum miskin betul-betul terekspos terhadap risiko ekonomi. Harga bahan bakar minyak (BBM), misalnya, sempat mencapai kisaran 140 dollar AS dan kini di kisaran 40 dollar AS. Dengan subsidi BBM lebih dari Rp 126 triliun atau sedikitnya 12 persen APBN 2008, kaum miskin masih menanggung kenaikan harga BBM—dan turunan inflasi—yang menjatuhkan daya beli.
Harga dan ketersediaan pangan juga kian ditentukan pasar internasional, membuat besarnya risiko kaum miskin, baik sebagai petani kecil maupun konsumen. Risiko terbesar disebabkan fluktuasi kebutuhan industri makanan dan persaingan dengan kebutuhan bahan bakar nabati (BBN). Secara tak langsung, produksi BBN juga menimbulkan persaingan lahan dengan produksi pangan (Cotula, Dyer, dan Vermeulen, 2008).
Pada tahun 2009, risiko ekonomi secara spesifik berupa dampak krisis global yang diikuti resesi beberapa negara maju. Ini berarti, permintaan dan harga di berbagai industri bakal menurun, beberapa menghantam jutaan kaum miskin. Pertama, buruh industri manufaktur berbasis ekspor. Kedua, buruh industri pertambangan. Ketiga, petani kecil produsen komoditas ekspor seperti kelapa sawit dan karet. Keempat, imbas tiga hal itu, rontoknya sektor informal dan usaha mikro, kecil, dan menengah akibat jatuhnya daya beli kaum miskin sebagai konsumen utama.
Daya respons kaum miskin terhadap risiko akibat shocks itu praktis amat lemah. Itu sebabnya, asumsi neoliberal bahwa setiap shocks akan bisa diatasi ”penyesuaian” dan ”pergeseran” berdasarkan pilihan rasional sering tak cocok guna menjelaskan penghidupan kaum miskin karena beberapa faktor.
Pertama, kepemilikan aset, modal, dan tabungan kaum miskin amat rendah. Petani di negara berkembang, misalnya, kebanyakan memiliki lahan sempit (World Development Report, 2008). Kedua, rendahnya pendidikan yang berdampak rendahnya kemampuan menyerap informasi dan merespons risiko ekonomi. Ketiga, bertemunya dua hal itu, melemahnya modal sosial, dan belum matangnya kelembagaan formal dalam menghadapi kemiskinan di tengah krisis ekonomi.
Penurunan harga—setidaknya inflasi yang lebih rendah—banyak disebut akan ”menguntungkan” kaum miskin pada tahun 2009. Hal ini dimulai dengan dua kali penurunan harga BBM pada akhir 2008.
Namun, kaum miskin kadang harus membayar harga lebih tinggi dibandingkan kelompok nonmiskin yang disebut ”biaya kemiskinan” (Prahalad, 2008). Ini, misalnya, terjadi dalam akses air bersih. Dalam soal BBM, penurunan harga langsung dinikmati pemilik kendaraan pribadi. Sejauh ini, transmisi kepada penurunan ongkos angkut dan transportasi serta harga bahan pokok belum tampak.
Risiko politik
Risiko politik 2009 ditimbulkan pemilihan umum (pemilu). Risiko ini membuat respons terhadap krisis ekonomi jauh dari optimal. Pertama, pemerintah sulit membuat kebijakan yang relatif fundamental dan sinergi kebijakan dengan pemerintah provinsi/kabupaten/ kota, terutama jika berbeda kepentingan politik. Kedua, pelaku usaha bersikap wait and see untuk memperoleh kepastian mengenai keberlanjutan kebijakan, terutama peraturan yang lebih rendah dari undang-undang (UU).
Namun, pemilu juga membuat pengambil kebijakan lebih peka mengatasi dampak jangka pendek krisis ekonomi—terutama melalui subsidi langsung dan proyek infrastruktur— karena kuatnya tekanan pemilih maupun kompetitor politik. Di sini pemilih akan menunjukkan rasionalitasnya dalam pilihan politik, seperti temuan hasil analisis terakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2009).
Para pemangku kepentingan setidaknya harus menempuh langkah berikut. Pertama, memastikan kebijakan jangka pendek pada tahun 2009 berjalan optimal. Untuk itu, kebijakan dan menteri yang melaksanakan harus ”menjaga jarak” dengan dinamika politik.
Kedua, untuk jangka menengah dan panjang, Pemilu 2009 harus dijadikan wahana untuk perbaikan kebijakan. Mengingat masih lemahnya pengorganisasian kaum miskin, dukungan dari cendekiawan, aktivis, kampus, dan organisasi masyarakat sipil merupakan hal wajib, baik untuk advokasi, penyediaan informasi yang sederhana, maupun membangun sistem yang memberi insentif bagi pengambil kebijakan untuk prokaum miskin. [Tata Mustasya Analis Ekonomi-Politik dan Kebijakan Publik].
------
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat!
Best Regards,
BinsarSilalahi
12 Januari 2009
peluncuran perdana blog sederhana
good day everyone.....
Please in this moment I would like to introduce my simple blog so you can fill and give comment to my blog in your convienent time....
Regards,
Please in this moment I would like to introduce my simple blog so you can fill and give comment to my blog in your convienent time....
Regards,
Langganan:
Postingan (Atom)
